Wednesday, 5 September 2012

Part of Me

posting by Nuna Nur Alam di 9/05/2012 05:37:00 am
Reaksi: 
0 komentar
Yeay! Akhirnya aku punya foto bagus pake karategi setelah jutaan tahun bergelut di dunia ini, hihihi

Jadi foto ini dijepret sama dua teman fotograferku, lokasinya di sebuah sungai belakang pasar yang entah gimana cara kesananya, aku udah ngga ingat xD

Fotonya ada banyak sih, banyakan yang failed maksudnya! haha
dan yang dua ini favoritku.

bagus kan kan kan???


Kalo aku nunjukin foto ini ke Papa, pasti beliau suruh nyuci (baca: cetak) trus minta dipajang di ruang tamu. #ProudFather kwkwk 



Thursday, 19 July 2012

Meramu Teknologi Digital untuk Wajah Merah Putih

posting by Nuna di 7/19/2012 11:41:00 pm
Reaksi: 
8 komentar
Suatu hari dalam sebuah selingan waktu, entah itu saat menantikan battrei kameraku tercharge penuh, 
atau ketika menunggu batangan berwarna hijau menjalar tak pasti untuk 100% yang kunantikan di depan monitor,
atau sesaat setelah merasakan kepuasan akan kesuksesan mendownload file bergiga-giga setelah enam kali expired.

Aku berfikir.
Apa yang akan terjadi jika semua teknologi digital itu tidak pernah ada ?
Apa yang akan aku lakukan hari ini agar tidak perlu mengais-ngais harta karun di hari esok, seperti kemarin?

Tanpa komputer, kamera, telepon genggam, jejaring sosial, internet. dan sebagainya
mungkin aku hanya akan menjadi pembuat kapak genggam dari batu lalu bergegas tidur pada malam hari tanpa pernah berfikir untuk mengupdate status terlebih dahulu di dunia maya.

Apa itu mengupdate status?
Dimana itu dunia maya?

Lalu apa yang akan terjadi pada dunia ? 

Dan bagaimana dengan negaraku, Indonesia ?


Yah, itu pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terlontarkan dari mulut siapapun karena telah didahului oleh kehadiran jawabannya sendiri.

Mungkin tidak perlu terlalu jauh meraba-raba mundur dalam pengandaian. 
Semua telah terjadi dengan rapi, dan teknologi itu adalah benar-benar ada.

Oleh karena itu marilah kita sejenak menundukkan kepala untuk mereka-mereka Sang Penemu Teknologi yang telah mendahului kita.
Setelah itu mari kita bersama-sama berdiri dan bertepuk tangan bangga meriah untuk Sang Otak-otak Digital yang masih berkiprah di bumi teknologi sampai sekarang ini.
Terima kasih.

Baiklah.

Indonesia adalah negara yang mayoritas masyarakatnya tidak pernah duduk diam dari tebaran teknologi-teknologi terkini yang kian marak diluncurkan.
Bermain-main di dalam era persaingan produk teknologi, melahirkan banyak pilihan di tengah-tengah kebutuhan dan keinginan masyarakat.
Pesona Teknologi digital seolah menjamur, tak terkendali, menarik perhatian, mengalihkan zaman, dan mengubah gaya hidup.
Aroma teknologi seakan telah menjadi pemeran utama dalam setiap ruang gerak manusia. 
Teknologi telah menjadi penunjang primer masa depan. 
Dan jujur, 
teknologi digital telah menjadi pengganti makan siangku selama ini.

Peranan teknologi digital untuk Indonesia dan seisinya memang tidak main-main jika dipandang dari sisi manapun di era ini.
Namun layaknya parfum yang harum semerbak, jika disemprotkan semena-mena dan sesuka hati bahkan pada sesuatu yang tepat sekalipun, jangankan hidung yang memang berperan mencium aromanya, 
mata, telinga dan akal sehat pun akan turut terganggu akan aroma yang entah bagaimana ceritanya sehingga dapat turut terlihat dan terdengar.

Yah, menghancurkan makna kata dan berargumen Ngawur-berkelas memang telah menjadi warnaku sebagai pecandu teknologi digital kelas blogger.



Kembali ke topik, 



Sesungguhnya teknologi digital telah menyerbu ganas ke negeri ini.
Serangan berupa kecanggihan, kemudahan, dan kemewahan yang diformulasikan menjadi seolah keajaiban.
Tanpa mendigitalkan otak dalam penggunaannya, bisa saja teknologi yang agung akan berakhir seperti botol parfum yang kosong.

Sekedar menggunakan teknologi sangat berbeda maknanya dengan memanfaatkan teknologi.
Menghirup manfaaat teknologi pun bukan serta merta berarti telah memanfaatkan teknologi.

Setiap orang bisa menggunakan teknologi, tetapi tidak semua bisa memanfaatkannya.
Siapapun bisa memamerkan kecanggihan teknologi dalam genggamannya, tetapi tidak semua orang bisa meramu teknologi digital itu seperti :

Menciptakan sesuatu yang berguna untuk Indonesia,


dan

Menghancurkan sesuatu yang menghancurkan Indonesia.





Menciptakan sesuatu ?
Yap ! 
Rasanya melahirkan karya dengan difasilitasi teknologi yang telah lengkap dan tersedia, 
jauh lebih mudah dari pada harus membayangkan perjuangan para penemu yang menyusun elemen suatu teknologi dari tidak ada menjadi ada.


Walaupun Indonesia belum menceburkan diri ke dalam lautan penemu-penemu teknologi digital handal yang diakui dunia,
tidak dapat dipungkiri bahwa sudah banyak anak-anak negeri yang telah berhasil membuat Indonesia maju selangkah lewat idenya.


Salah satu contoh semesta digital yang sangat populer ciptaan rekan se-tanah air, Kristupa Saragih yaitu website 9Fotografernet.

Ramuan ide yang dituangkan ke dalam loyang digital ini merupakan gambaran nyata akan keberadaan jiwa-jiwa fotografer Indonesia yang tidak kalah dengan mereka-mereka yang se-profesi di negara lain.
Persaingan dan kekompakan terjalin secara nasionalisme dalam wadah fotografi itu. 
Hasil karya dengan masing-masing keunikannya terpampang mengagumkan, mengesankan, dan dapat mengangkat nama Indonesia dalam bidang seni dan artistik di mata dunia.


Indonesia harus bangga, dan tentu saja ini dapat dijadikan sebagai motivasi bagi para generasi muda untuk lebih serius dalam berkarya.



"Berhenti bermain-main, dan karyamu akan dikenal"



Teknologi Digital terlalu mengglobal untuk sekedar diselipkan ke dalam saku.
Dalam sekali gerakan klik dapat mengantar penggunanya seolah telah berada di belahan dunia lain.
Untuk memperoleh Ilmu pengetahuan, informasi, berita, hiburan dan apapun tidak perlu lagi ditukarkan dengan waktu, keringat, dan air mata.


Semuanya instan, peka, namun tidak selamanya berbuah positif.




Menghancurkan sesuatu yang menghancurkan Indonesia, merupakan terobosan yang mengharukan bagi Indonesia dewasa ini.


Bagaimana tidak?
Sesak rasanya jika lagi-lagi terdengar kasus akan pelanggaran undang-undang jejaring sosial lewat internet yang tidak lucu dan menarik mundur pamor Negara Tercinta.
Kesalahan otak pada penggunanya tidak bisa dibiarkan dan dimaafkan begitu saja. 
Mereka harus dijebloskan ke dalam penjara.

Iya! tentu saja memenjarakan penyalahpengguna teknologi digital bukan penyiratan akan kalimat "Menghancurkan sesuatu yang menghancurkan Indonesia" yang aku maksud.
Terkadang menulis melibatkan emosi akan kenyataan. :D

Memegang kemudi pencegahan terjadinya penyalahgunaan teknologi digital adalah salah satu jenis usaha memanfaatkan teknologi digital itu sendiri.
Semua orang dapat mengemudikannya, dan tentu saja dengan cara membuka mata, hati, serta mata hati masing-masing individu. Renungkanlah!


Membunuh keinginan berbelok ke arah negatif atas kesenangan yang entah datang dari mana, berhati-hati, serta pintar-pintar menggunakan teknologi akan menjauhkan kita dan Negeri ini dari kelumpuhan akan serbuan ganas teknologi digital.


Indonesia TIDAK PERLU menanggung malu, menggoyahkan kepercayaan pada eksistensi Pusat Teknologi negara, dan mencederai kebanggaan para pengguna sehat akan teknologi digital.


Manfaatkanlah teknologi digital dengan kiblat menuju Indonesia yang lebih maju, menjadi negara yang disegani dunia, negara yang kreatif, negara yang berkesan, negara terbaik!


Indonesia tersusun atas otak-otak digital penerus dunia, tangan-tangan kreatif, dan roh semangat 45 yang selamanya berkobar.
Dengan teknologi dalam genggaman, kenapa tidak ?



Masih banyak cara meramu teknologi digital untuk tetap memerah putihkan Indonesia kita.
Aku sebagai generasi muda yang dengan percaya dirinya mengaku pantang menyerah dan pekerja keras selalu berusaha agar senantiasa mengonsumsi teknologi digital tetap pada jalur khatulistiwa.


Di tengah kesibukan duniawi yang mendalam, berbekal keinginan menulis serta optimis akan kemenangan membuatku bertahan sebagai blogger dan kerap kali meraih prestasi.

Teknologi digital yang satu ini memang tidak bisa dipisahkan dari tunas-tunas penulis berbakat Tanah Air untuk tetap mempositifkan talenta yang meluap-luap.


Aku bangga menjadi bagian dari Blogger Nusantara.

Selain itu, menemukan jati diri sebagai fotografer di dunia nyata membuatku tidak kalah kreatifnya dalam mengolah teknologi digital menjadi lebih berarti.



Media facebook yang seyogyanya bukan tempat pencurahan kegalauan, amarah dan basa basi berhasil kuramu menjadi sebuah wadah pengukir hasil karya yang memang berniat ku perkenalkan pada dunia.
Aku ingin memaksimalkan manfaat teknologi digital yang semasa kecil tidak pernah kuduga akan kutemui lalu menyatu denganku di usia ini.

Semoga semua generasi muda Indonesia berpikiran yang sama dengan tulisanku, bersemangat, lalu melakukan yang terbaik. 


Ayo menguasai teknologi! bukan dikuasai teknologi.



Jadi, sudah siap meramu teknologi digital ?

Friday, 29 June 2012

Ayat-ayat Batik

posting by Nuna Nur Alam di 6/29/2012 07:58:00 am
Reaksi: 
0 komentar

Untuk seuntai kain gelap, kuno nan lusuh

dulu,

Tak pernah mencarimu
Tak pernah berpikir untuk memilikimu
Selalu ada di tiap sudut rumah
Sering dikenakan ayah 
Bangga menempatkanmu di pilihan terakhir

menolakmu,
menghapusmu...

...


Yah, itu dulu.

Kini beri maaf untuk masa kecilku yang lugu
Beri kesempatan untuk mendengarkan nyanyian coretan indahmu
Beri aku daya untuk menghirup pesan dalam setiap goresan untaianmu
Beri aku rasa untuk dapat mengerti bahasa di setiap kelok corak bisumu


oh, Batik.


Syair sederhana untuk sebuah harta sakral tanah air warisan dunia.

Jika ada pertanyaan tentang hal yang paling melekat dengan Negaraku, 
dengan kenyataan akan Indonesia kian memancarkan kekayaan serta ciri khas elok yang beragam dan berbeda-beda dalam satu kesatuan, 
tanpa membuang waktu untuk sekedar bernapas, Aku akan menjawab,

Batik adalah cerminan Indonesia
Batik adalah warna Indonesia
Batik adalah roh Indonesia 

Mungkinkah seseorang bisa mengambil bayanganmu dalam cermin? 

Atau merebut warnamu ? 

Atau mungkinkah seseorang berhasil mencuri rohmu ?

Adegan film laga yang cukup seru dalam jejeran tontonan yang menjenuhkan.


Berhenti membayangkan karisma perangko dan amplop yang selama ini menjadi simbol suatu kelekatan.
Tidak seperti kedua benda itu, sekeras apapun kau mencabik batik, mengoyak Indonesia, keduanya takkan pernah bisa dipisahkan.

Batik merupakan salah satu saksi sejarah Indonesia yang menimbun banyak cerita.

Di masa lampau, perempuan-perempuan Jawa telah menerapkan bermain-main dengan motif menawan itu sebagai mata pencaharian.
Merupakan suatu profesi mengagumkan pada zaman dimana hidup dan bekerja sebagai pembuat pakaian untuk kalangan bangsawan.

Dengan menggunakan alat tulis batik tradisional yang disebut canting, cairan lilin panas (malam) ditorehkan lihai di atas kain putih berbahan kapas yang dinamakan kain mori.




Seiring berkembangnya zaman dan pemikiran masyarakat, maka tumbuhlah di tengah-tengah mereka teknik membuat batik dengan cara dicap.

Kerajinan batik cap menggunakan alat stempel yang berbahan dasar tembaga.
Teknik ini tidak lain adalah gerbang dimana kaum adam memasuki tahap kelaziman untuk turut menjadi pengrajin batik.




Batik tulis yang tadinya dibuat dengan ekstra menjiwai dan berhati-hati penuh selama kurun waktu 2-3 bulan, teknik Batik cap hanya menghabiskan kurang lebih 2-3 hari untuk proses pembuatannya.

Terkesan sederhana dan mudah, namun tidak serta merta siapapun dapat membuatnya dengan baik dan benar.
Mencap batik tidak dapat diselesaikan dengan proses kilat, secepat lilin panas berpijak pada kain.

Diperlukan peralatan-peralatan khusus,
langkah-langkah yang harus dihinggapi lalu dilewati,
dan tentu saja ketelitian dan ketekunan oleh sang pengrajin.

Cara pembuatannya diawali dengan tahap membuat desain batik yang diinginkan, lalu diikuti dengan pembuatan pola stempel yang akan digunakan, tentu saja dengan model yang sama.

Kemudian perlengkapan cap di atas kain dengan aturan lapisan yang terdiri atas plastik, busa basah, kertas semen, dan kertas mika di atas meja khusus.

Tahap berikutnya adalah menyiapkan wajan datar di atas kompor menyala untuk mencairkan malam dengan cara dipanaskan.

Lalu sampailah pada tahap dimana diperlukan keterampilan dan konsentrasi, yaitu mencelupkan stempel tembaga ke dalam cairan malam, lalu mencapkannya dengan posisi sempurna di atas kain yang telah direbahkan di atas meja.

Selanjutnya kain bermotif yang baru saja dicap, dimasukkan ke dalam bak berisi cairan pewarna. Tahap pewarnaan ini dilakukan dengan cara mengaduk-aduk kain yang direndam sampai pewarna terserap dan merata pada kain, setelah itu kain diangkat dan diangin-anginkan sampai kering.

Setelah tahap pengeringan selesai, pengrajin mencelupkan dan mengaduk-aduk kain ke dalam air mendidih yang telah dicampur zat khusus penghilang lilin. Proses ini disebut Pelorodan yang bertujuan untuk mengangkat malam yang tadi telah dicapkan pada kain.
Setelah selesai, kain dibilas hingga bersih dan dijemur.

Itu sedikit ulasan lengkap tentang bagaimana kronologi perjalanan seuntai kain hingga terbatik.

Konon batik mengandung unsur misteri dalam setiap pembuatannya, dan selalu menampakkan kejutan demi kejutan jika telah berhasil diselesaikan dengan sempurna.


Seraya semakin bertumbuhnya kreatifitas, kain yang digunakan sudah mulai beraneka ragam, seperti kain poliester, rayon, sutera dan bahan sintetis lainnya.

Selain itu, batik yang mulanya hanya sebatas tradisi turun temurun, kian mulai tersebar. 
Si pemakai batik makin merakyat dan tidak lagi hanya dipakai oleh kalangan berada dan pemerintah di masa itu.

Namun siapapun yang mengenakan kain batik, akan selalu ada kesan unik tersendiri.
Keterampilan yang mereka miliki mampu melahirkan seni kerajinan tangan yang bukan hanya sekedar sketsa bola-bola atau kembang dengan dedaunan di antara tangkainya, melainkan seni yang memiliki nilai spiritual tinggi.


Setiap motif batik menyiratkan makna.

canting yang menari-nari di atas kain tiap lekuknya adalah jiwa dan keyakinan dari si penulis batik.

Jejak stempel tembaga yang dicapkan pada kain merupakan lambang perasaan yang kian mewakili suara hati sang pebatik.


Memaknai batik berarti menghanyutkan diri kedalam motif-motifnya yang dramatis.
Merasakan hawa spiritualnya, dan mendengarkan pesan merdu yang tersirat dalam setiap alunan coraknya.

Bukan hanya sekedar mengenakan dan melepasnya kemudian disimpan rapi,  memaknai batik adalah menghirup seni pengabdian dan perjalanan hidup di atas coretan-coretan halus.


Pada masa sekarang ini di seluruh wilayah Indonesia, semua kalangan telah tersentuh oleh aroma batik.

Ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi dari Indonesia oleh UNESCO sejak tanggal 2 Oktober 2009 adalah bukti nyata akan ikatan sakral antara Indonesia dan Batik yang mustahil untuk terklaim-lain-kan.

Corak batik juga sudah tidak dibatasi dalam kerangka pola pakaian saja.
Otak-otak kreatif menyulap mereka dalam wujud kreasi yang berdaya nilai tinggi.




Batik seolah tersenyum.

Melihat marak dan berkembangnya pengrajin batik seolah hembusan angin yang meniupkan getar jiwa.

Melihat pemimpin-pemimpin negara mengenakan batik adalah pemandangan membanggakan yang tak terpatahkan.

Melihat masyarakat se-tanah air melestarikan batik di setiap raga mereka adalah hamparan sinar hangat yang tak akan pernah mati.


Dan kata Ayah, melihatku mengenakan batik adalah cahaya malaikat kecil dalam balutan kedewasaan.


ehm, sedikit dramatisasi ceritaku bersama batik,

Aku Nuna, anak perempuan dari ayah dan ibuku.
Aku adalah anak perempuan yang seharusnya telah berpenampakan sebagai seorang wanita.
Yah, awal tahun ini umur ku genap 20 tahun.
Penampilan kekanak-kanakan membuatku bahagia
Sangat bahagia!
Sampai suatu saat aku terjebak pada sebuah perasaan dimana semua terasa tidak sesuai lagi.
Semua seolah meninggalkanku.
Tersesat dalam waktu dan berpikir akan ketidakbahagiaan yang tentunya akan melanda di suatu masa ketika aku telah berwujud nenek-nenek dan, masih kekanak-kanakan.

Ironis sekali!


Mengenakan pakaian apapun tidak kunjung menampakkan sisi kedewasaan yang membanggakan dalam diriku.


Gaya berpakaian sehari-hariku yang mengusung kaos gombrang terkesan acuh dan cenderung menggembel.
Memakai baju nona hanya membangkitkan pujian lucu dan mungil terlontar seperti rudal kepadaku.
Mengenakan pakaian pesta hanya mengundang ilusi akan riak kemeriahan suatu karnaval dan kemudian ricuh lalu terhambur mengenaskan.

Suatu ketika terlintas di benakku untuk memakai jas ayah, berharap aku terlihat dewasa dan riwayat Nuna kekanak-kanakan segera musnah.


Baiklah, itu hanya candaan dan agak lucu. Lupakan! 


Tanpa berniat untuk mengenakan jas itu lagi, kujalani hari-hariku dalam pencarian akan jati diri.
Tak disangka, aku dipertemukan dengan sebuah hari dimana aku harus memakai kemeja batik. 
Pilihanku tertuju pada kemeja coklat bercorak ini, dan... 

Semuanya berubah.



Aku terlihat berbeda.
Sederhana, rapi, sopan, dan memancarkan aura wanita Indonesia.
Aku suka!
Teman-temanku menganga tak kalah dramatisnya dengan cerita nyata ini.



Bergetar rasanya saat merasakan alir darah Indonesia dalam ragaku.

Aku ingin meluapkan kebanggaan ini dengan menceburkan hasrat ke dalam timbahan canting dan menulis motif-motif indah, lalu meniupkannya jiwa.


Bukankah hebat bisa merasakan berada di tengah-tengah kekentalan spiritual batik buatan tangan?

Bukan batik-batikan instan di masa kini yang hanya mengandalkan mesin percetakan sablon, kemudian dalam sekejap selesai selusin. BUKAN!


Tapi batik dengan jiwa dan kekuatan hati di dalammnya.
Batik yang selama ini membangun dan menjadi roh Indonesia.
Batik yang tanpa disentuh perkembangan teknologi pun, akan hidup selamanya.
Batik yang menyiratkan makna, menyisipkan pesan, dan melantungkan nyanyiannya.



suara batik ?


Yah, dan aku sangat ingin mendengarnya.



sumber referensi :
wikipedia.com
kratonpedia.com
penjahitkebaya.com
dan dari berbagai media lainnya.




Wednesday, 13 June 2012

Lereklerekang Island

posting by Nuna Nur Alam di 6/13/2012 06:08:00 am
Reaksi: 
0 komentar

Hasil fotoku mulai disini :

Ini pertama kalinya aku ikut demo-demoan.
Aku ngga suka demo sih. 
Yapp! Tapi terkadang kita harus ngalamin dulu sekali, biar berhak bilang 
"Aku ngga suka"
^0^

Thursday, 29 March 2012

Being Part of Majene Diafragma

posting by Nuna Nur Alam di 3/29/2012 06:28:00 am
Reaksi: 
0 komentar
Excited!
Yapp. Itu kata yang paling menggambarkan perasaankyu saat ini.
Gimana ngga seneng. Berawal dari ajakan iseng seorang teman untuk hunting foto pagi di pelabuhan, ended with aku diajak join di komunitas fotografer pertama di kota ini. Majenediafragma Photographer Community^0^


Tapi aku belum punya kamera :(

Katanya temanku, kamera itu gampang, banyak di toko-toko, tinggal dibeli.
Ilmunya yang susah! Kuasai teknik kamera dulu. Itu yang penting! wowowow 
kok bener? kwkw

Well, ini pertama kalinya aku pegang dan mencet shutter kamera DSLR.
Cukup membingungkan awalnya, tetapi keren! Sumpah dunia ini yang aku mau!

Aku pengen banget jadi fotografer. Aku suka banget fotografi.
Cintaaaaa ^0^

Aku yakin kalau hari ini adalah hari bersejarah buat aku di masa depan. Sekarang wadah udah ada, teman-teman fotografer udah ada, kamera pinjaman udah ada. Hahaha 

Kayaknya harus sebut nama deh!
Terima kasih kak Wawan dan Twing xD

Aku bakal nabung buat beli kamera dan berlatih bersyungguh-syungguh!


Monday, 26 March 2012

Taty!

posting by Nuna Nur Alam di 3/26/2012 07:11:00 am
Reaksi: 
0 komentar

Thank you Taty!


Sincerely, 


your Troublemaker Cousin xD

 

History of Nuna Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | Best Kindle Device